“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama,”

Di atas adalah petikan surat RA. Kartini kepada Prof. Anton dan istrinya pada 4 Oktober 1902. Kartini pernah diberi kado Al Quran berbahasa Jawa oleh Kyai Saleh Darat pada masa remajanya. Kemudian beliau mengkaji ayat demi ayat dalam Al Quran. Ketika itu, beliau sangat tertegun dengan salah satu ayat dalam Surat Al Baqarah: 257 yang artinya, ”Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Ayat inilah yang menginspirasi Kartini untuk mengubah kehidupan para wanita dari keterbelakangan menuju kehidupan yang disinari cahaya Ilahi. Sehingga dalam banyak surat yang dikirimkan untuk para sahabat penanya, Kartini sering menulis dengan kata kata door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Sehingga Kartini mustinya, tidak lagi disebut sebagai pejuang emansipasi perempuan yang menginginkan adanya kesetaraan hak dan kewajiban yang sama antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi sebagai pejuang pendidikan perempuan yang menginginkan perempuan memiliki pendidikan yang layak, pendidikan yang memberikan bekal budi pekerti dan menjadikan perempuan sebagai ibu dan pendidik yang cerdas serta terampil dalam menjalankan kewajibannya.Hal ini sangat bertolak belakang dengan realita saat ini, dimana sekitar dua pertiga dari 3,4 juta masyarakat Indonesia yang buta huruf adalah perempuan (disampaikan Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat pada 2017 lalu).
Perempuan, para ibu dan pendidik… di tangannya akan lahir generasi harapan. Menjadi Kartini zaman now, berarti menghidupkan kembali semangat mendidik dan berkontribusi, karena perempuan adalah kunci peradaban. Sehingga tak salah jika dikatakan Semua Ibu adalah Bintang..
Mengembalikan peran ibu sebagai madrasah utama keluarga adalah menjaga semangat kartini saat ini. Ada tiga hal penting yang harus kita pastikan,
Pertama Ibu Harus Berpendidikan, terutama dari hal akhlaq dan agamanya. Karena ibu akan berperan besar pada pembentukan watak dan karakter putra putrinya. Membangun kecerdasan emosional, dan bahkan spiritualnya. Semangat mencari ilmu wahai ibu, kelak akan kau dapati warisan terindah bukanlah harta tapi ilmu yang bermanfaat yang senantiasa putra putri kita amalkan..
Kedua, Ibu adalah madrasah utama, dan ayah adalah kepala sekolahnya. Tugas ayah memimpin, menentukan kurikulum keluarga, dan mengevaluasi pencapaiannya. Ayah juga harus kuat dalam mendidik karakter anak. Fenomena LGBT dan pergaulan bebas salah satunya adalah karena anak-anak kita tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup di dalam keluarganya.
Ketiga, senantiasa menghidupkan doa di rumah kita. Sebaik baik tauladan adalah ayah bunda, miniatur hidup ananda.. Dengan senantiasa mengajarkan ananda untuk menyandarkan segala kekuatan ikhtiar pada doa, besar harap ananda akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh yang hanya bergantung pada Rabbnya. Mari ibu, hidupkan kembali semangat kartini di rumah kecil kita, semangat berilmu dan berbuat, di pundakmu kunci peradaban negeri ini. Jangan jadikan generasi kita zurriyyatan dhi’afa (generasi yang lemah) tapi generasi qurrata a’yun (penyejuk mata). Yaitu generasi yang memberi harapan baik bagi masa depan. Karena telah kokoh jiwa dan pikirannya yang dilandasi kecintaan akan Tuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *